Bupati Eman Tinjau Puskesmas Bantarujeg, Evaluasi Menyeluruh Pelayanan Kesehatan Jadi Prioritas

MAJALENGKA – Bupati Majalengka, Eman Suherman, meninjau persoalan pelayanan kesehatan yang dialami seorang pasien asal Desa Cipeundeuy di Puskesmas Bantarujeg, Senin (2/11/2026). Menyikapi kejadian tersebut, Bupati menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan di seluruh Puskesmas di Kabupaten Majalengka.

Bupati menyampaikan bahwa berdasarkan informasi awal yang diterimanya, pasien tersebut telah menjalani pemeriksaan awal oleh petugas medis di Puskesmas Bantarujeg. Namun, dalam proses pelayanan berikutnya, diduga terjadi miskomunikasi antara petugas dan pasien sehingga menimbulkan persoalan dalam proses penanganan.

Menurut penjelasan Bupati, saat tiba di Puskesmas, pasien mendapatkan bantuan kursi roda untuk menjalani pemeriksaan awal, meliputi pengukuran suhu tubuh, tekanan darah, serta pemeriksaan fisik lainnya. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, pasien diduga mengalami gejala yang mengarah pada tuberkulosis (TBC).

Pada saat bersamaan, salah satu ruang pemeriksaan sedang digunakan untuk menangani pasien dalam kondisi darurat akibat kecelakaan. Kondisi tersebut membuat pasien ditempatkan sementara di area lorong atau ruang transit Puskesmas.

Selanjutnya, dokter menyarankan agar pasien menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, termasuk pemeriksaan rontgen, karena keterbatasan fasilitas diagnostik di Puskesmas.

Dalam proses komunikasi terkait rujukan tersebut, pasien disebut sempat menyampaikan keberatan karena mempertimbangkan jarak tempuh menuju rumah sakit. Petugas kemudian mengira pasien telah berangkat untuk menjalani rujukan. Namun, berdasarkan keterangan yang disampaikan Bupati, pasien ternyata masih berada di area lorong Puskesmas.

Perbedaan pemahaman tersebut diduga menjadi salah satu penyebab munculnya persoalan pelayanan yang kemudian mendapat perhatian publik.

“Secara prosedur, pasien sudah mendapatkan pemeriksaan awal. Namun, karena ada keterbatasan fasilitas untuk pemeriksaan rontgen, pasien perlu dirujuk. Petugas mengira pasien sudah berangkat, ternyata masih berada di lorong. Di sinilah terjadi miskomunikasi di lapangan,” jelas Eman.

Bupati Sambangi Rumah Pasien dan Tawarkan Penanggungan Biaya Pengobatan

Menanggapi kejadian tersebut, Bupati Eman menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap bertanggung jawab memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab pemerintah daerah, Bupati mendatangi langsung kediaman pasien di Desa Cipeundeuy bersama Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas Bantarujeg, dan Camat Bantarujeg.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati menyampaikan permohonan maaf sekaligus memastikan kondisi pasien dan kebutuhan penanganan medis selanjutnya.

“Saya sebagai Bupati bertanggung jawab atas persoalan ini. Kami datang langsung ke rumah pasien untuk meminta maaf. Jika pasien bersedia dibawa dan dirawat di rumah sakit, seluruh biaya pengobatannya akan kami tangani dan tanggung,” tegasnya.

Langkah tersebut, menurut Bupati, merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memastikan masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan tanpa merasa diabaikan ketika membutuhkan pertolongan medis.

Evaluasi Seluruh Puskesmas, Pelayanan Humanis Jadi Penekanan

Tidak berhenti pada penyelesaian persoalan di Puskesmas Bantarujeg, Bupati Eman juga berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan di seluruh Puskesmas di Kabupaten Majalengka.

Rencananya, Selasa (3/11/2026), Bupati akan mengumpulkan seluruh kepala Puskesmas, dokter, dan tenaga kesehatan untuk memberikan arahan sekaligus memperkuat komitmen peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat.

Dalam evaluasi tersebut, Bupati menekankan bahwa pelayanan kesehatan tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan prosedur medis dan standar operasional, tetapi juga harus mengedepankan keramahan, kesantunan, kepedulian, serta empati terhadap pasien.

Menurutnya, masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan umumnya tidak hanya menghadapi persoalan kesehatan secara fisik, tetapi juga berbagai tekanan psikologis dan sosial, mulai dari kekhawatiran terhadap biaya pengobatan, kondisi keluarga, hingga kebutuhan pendamping selama menjalani perawatan.

“Masyarakat yang datang ke Puskesmas atau rumah sakit itu membawa segudang persoalan. Bukan hanya sakit fisik, tetapi juga memikirkan biaya, keluarga yang menjaga, dan rasa cemas. Karena itu, mereka sangat sensitif,” ungkapnya.

Ia meminta seluruh tenaga kesehatan untuk memahami kondisi tersebut dan menjadikan empati sebagai bagian penting dari profesionalisme dalam memberikan pelayanan.

“Petugas harus memahami ini. Tinggalkan egoisme di rumah dan layani masyarakat dengan ramah, santun, serta penuh empati,” pungkasnya.

Bupati berharap kejadian di Puskesmas Bantarujeg menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi seluruh jajaran pelayanan kesehatan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Pemerintah Kabupaten Majalengka, lanjutnya, berkomitmen terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, baik dari aspek kepatuhan terhadap prosedur, koordinasi antartenaga kesehatan, ketersediaan fasilitas, maupun pendekatan yang lebih humanis.

Dengan demikian, setiap masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis diharapkan memperoleh penanganan yang cepat, tepat, profesional, dan manusiawi. (Wanda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *