by

Sampyong, Kesenian Asli Majalengka Dipertunjukan Dalam Launching PPNEWS

Majalengka. Sampyong Majalengka adalah kesenian adu ketangkasan asli dari kabupaten Majalengka. Permainan saling memukul betis dengan rotan ini mengisi salah satu acara dalam launching media online PPNEWS sekaligus silaturahmi Ketua Umum BM PAN, Pasha Ungu dengan Pemuda Pancasila MPC Majalengka. Sabtu (24/9) lalu

Group sampyong Jagasatru PP Majalengka dibawah pimpinan Abah Yahya tampil memukau penonton, sepintas memang mengerikan tapi bagi para pemain pukulan dari batang rotan tampak tidak menyakitkan

“kami dari Jagasatru Pemuda Pancasila kabupaten Majalengka ingin melestarikan sampyong sebagai kesenian asli Majalengka” ungkapnya

Lanjut Abah Yahya, seiring perkembangan zaman kesenian tradisional semakin terpinggirkan dan berganti dengan kesenian lainnya yang lebih modern. Bahkan mungkin generasi sekarang tidak mengetahui apa itu kesenian sampyong

“sebagai putra daerah Majalengka, kami akan terus mempertahankan kesenian sampyong. Kami berharap suatu saat sampyong akan dikenal hingga nusantara bahkan dunia” jelasnya

Sejarah Sampyong

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Tahun 1960 di Cibodas Kecamatan Majalengka, tumbuh permainan rakyat bernama Ujungan. Ujungan merupakan permainan adu ketangkasan dan kekuatan memukul dan dipukul dengan alat yang terbuat dari kayu atau rotan berukuran 60 cm. Pemain terdiri atas 2 orang, baik laki-laki maupun perempuan. Kedua pemain menggunakan teregos, yaitu tutup kepala yang terbuat dari kain yang diisi dengan bahan-bahan empuk sebagai pelindung kepala.

Cara bermain ujungan adalah kedua pemain berdiri saling berhadapan. Sasaran pukulan pada lawan main tidak terbatas jumlah dan tempatnya. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa ditangkis dan memukul atau dipukul sebanyak-banyaknya. Pukulan dihentikan, apabila salah seorang pemain dinyatakan kalah karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit akibat pukulan. Permainan ini dipimpin oleh seorang wasit yang disebut malandang.

Ujungan diiringi gamelan Pencak Silat yang ditabuh sepanjang permainan. Ibing Pencak Silat dibawakan pula oleh kedua pemain, dan bahkan malandang, sebagai bumbu permainan.

Oleh karena sifat Ujungan yang terlalu bebas, maka permainan ini dianggap terlalu berbahaya hingga tidak banyak yang sanggup memainkannya. Beberapa tokoh Ujungan kemudian menyederhanakan aturan permainan, yaitu:

– Seorang pemain hanya boleh memukul lawannya sebanyak 3 kali pukulan;

– Sasaran pukulan hanya sebatas betis bagian belakang;

– Pemain dikelompokkan berdasarkan usia yaitu: golongan tua, menengah, pemuda, dan anak-anak.

Setelah ada aturan baru, nama Ujungan kemudian berganti menjadi Sampyong. Istilah sampyong berasal dari bahasa Cina, sam= tiga dan pyong=pukulan. Nama Sampyong terucap begitu saja oleh seorang penonton keturunan Cina pada saat menyaksikan permainan.

Sebagai salah satu seni pertunjukan tradisional, sampyong sering dipertunjukan di acara-acara tertentu, seperti acara hajatan dan sebagainya.

Tokoh – tokoh yang berjasa dalam mengembangkan dan melestarikan kesenian sampyong ini adalah antara lain: Sanen (Almarhum), Abah Lewo, Mang Kiyun, mang Karta, K. Almawi, Baron, Komar, Anah, Emindan beberapa tokoh lainnya yang tersebar di beberapa daerah Majalengka. Berkat keulatan para tokoh tersebut, kesenian ini tersebar kebeberapa daerah diantaranya Cibodas, Kulur, Sidangkasih, Cijati, Simpeureum, Pasirmuncang, dan beberapa daerah lainnya. Sebagai penghormatan, kelompok seni sampyong Mekar Padesaan dari simpeureum pernah mewakili Jawa Barat pada event pertunjukan seni olahraga di Bali (red)