by

Paus Fransiskus pimpin misa di ibu kota Kazakhstan

Matamaja.com//Jakarta – Paus Fransiskus memimpin misa kudus yang diikuti sekitar 7.000 orang di Ibu Kota Nur Sultan, Kazakhstan, pada Rabu (14/9).

Ribuan umat dari Kazakhstan serta dari sejumlah negara lain seperti Romania, Jerman, Polandia, Rusia, Uzbekistan, Kirgistan, Mongolia, Azerbaijan, Georgia, Turkmenistan, Belarus, dan Tajikistan ikut ambil bagian dalam kebaktian doa untuk Pesta Salib Suci.

Dalam homilinya, Paus mengajak umat untuk belajar dari Salib Kristus mengenai cinta, belas kasih, dan pentingnya memaafkan.

“Lengan Yesus yang terentang adalah lengan kelembutan yang di dalamnya Allah ingin memeluk kita. Mereka menunjukkan kepada kita persaudaraan, di antara kita sendiri dan dengan semua, di mana kita dipanggil untuk hidup,” kata Paus, seperti disampaikan dalam rilis pers di situs VII Congress of the Leaders of World and Traditional Religions, Kamis.

Paus, yang berkunjung ke Kazakhstan menghadiri forum internasional antarpemimpin agama tersebut, juga menjelaskan mengenai jalan keselamatan yang diajarkan oleh Yesus—yaitu yang berlandaskan kasih dan kerendahatian, tanpa pamrih, dan universal.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu menekankan nilai besar perdamaian dan keadilan ketika berbicara untuk menentang konflik bersenjata.

Secara khusus, dia berterima kasih kepada pemerintah Kazakhstan yang telah mengatur kunjungannya dan memberkati orang-orang Kazakhstan ketika mempersembahkan Piala Misa Kudus.

Kunjungan Paus ke Kazakhstan adalah peristiwa yang sangat penting yang memiliki implikasi spiritual dan politik. Paus memiliki otoritas tinggi di seluruh dunia, mengingat suaranya yang kerap didengar ketika dia berbicara isu perang, kemiskinan, ketidaksetaraan.

Dukungan Paus terhadap inisiatif Kazakhstan untuk mengadakan Kongres Pemimpin Dunia dan Agama Tradisional meningkatkan prestise internasional atas kegiatan tersebut.

Kunjungan Vatikan sebelumnya dan Paus Katolik Roma Yohanes Paulus II ke Kazakhstan terjadi pada September 2001, beberapa hari setelah serangan teroris tragis 11 September di New York.

Saat itu, umat manusia seolah berada di ambang “benturan peradaban”, tetapi Yohanes Paulus II, selama kunjungannya ke Kazakhstan, berbagi visinya tentang koeksistensi bangsa-bangsa yang damai.

Dia mencatat bahwa “Kristen dan Muslim memiliki banyak kesamaan, dan oleh karena itu dialog antara dunia Muslim dan Kristen diperlukan saat ini, tidak seperti sebelumnya”.

Selama kunjungan Paus ketika itu muncul ide untuk mengadakan Kongres Pemimpin Dunia dan Agama Tradisional di Kazakhstan. Dua tahun kemudian, pada 23-24 September 2003, diadakan Kongres I Pemimpin Dunia dan Agama Tradisional.

Sejak hari pertama, Vatikan juga merupakan peserta yang konsisten dan aktif dalam kongres di tingkat tinggi.Dengan demikian, Paus Fransiskus adalah Kepala Gereja Katolik Roma pertama yang mengukuhkan partisipasinya dalam Kongres Pemimpin Dunia dan Agama Tradisional.

(@aher/ANTARA)