by

Majalengka Menuju Megapolitan

-Wisata-214 views

oleh : Erwin Dermawan

matamaja.comMajalengka. Dulu di era tahun 1990-2000, Majalengka adalah sebuah daerah kabupaten yang masih terhitung sepi. Tidak ada pabrik dengan produksi skala besar apalagi sebuah zona industri yang luas. Lahan pertanian dan perkebunan menghampar luas di semua wilayah, roda ekonomi pun berputar di lingkaran agrobisnis dan industri pembuatan genteng yang melegenda.

Berhembusnya rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat untuk menggantikan bandara Husein Sastranegara di Majalengka perlahan namun pasti mulai merubah wajah Kabupaten Majalengka. Ditambah lagi dengan ditetapkannya kawasan industri baru Jawa Barat di kabupaten Majalengka. Para investor pun mulai memburu lahan untuk mempersiapkan investasi bisnis mereka

pt shoetown ligung

Satu per satu pabrik-pabrik mulai berdiri dan beroperasi, menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru bagi warga masyarakat Majalengka. Konsentrasi roda ekonomi awalnya hanya terfokus pada agrobisnis, mulai terpecah kepada manufaktur modern. Hal ini juga tentunya membawa dampak pada sektor agrobisnis, ribuan hektar lahan pertanian dan perkebunan berubah menjadi bangunan berstruktur baja dan beton.

Selesainnya pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati dan Tol Cipali yang terhubung dalam tol transjawa , semakin membuat Majalengka menjadi target investor dan pencari kerja. Arus migran kian membanjiri Majalengka, bahkan dalam waktu tertentu kemacetan arus lalulintas mulai terjadi, terutama pada saat jam masuk dan keluar pabrik.

Dalam dialog Nasional ke-16 “Indonesia Maju” yang di helat di Balai Asri Pusdai Jabar, Jl. Diponegoro Kota Bandung, Rabu (18/7/18). Menteri Perhubungan (Menhub) RI Budi Karya Sumadi mengatakan, kawasan pertumbuhan baru di Timur Jawa Barat ini juga akan akan didukung oleh infrastruktur berupa pelabuhan besar di Patimban, Kabupaten Subang. Pelabuhan ini, kata Menhub akan lebih besar dibanding Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

“Ini (pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jabar) menjadi alternatif dan ini menjadi suatu pusat pertumbuhan membuat Subang, Karawang, Indramayu, Cirebon dan Majalengka menjadi suatu pusat pertumbuhan industri yang luar biasa,” lanjutnya

Segitiga Rebana (Dok. bapeda jabar)

Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang akan merelokasi industri dari Bandung Raya ke wilayah segitiga Rebana (Cirebon, Kertajati, Patimban) tentunya akan semakin memperkuat transformasi Kabupaten Majalengka dari kota kecil yang sepi menjadi kota besar yang ramai. Kalau menyimak dari perkembangan kota-kota lain yang dekat dengan Bandara dan Kawasan Industri, akselerasi perkembangannya terjadi sangat cepat. Bukan hal yang mustahil, dengan dikelilingi megaproyek Nasional, Majalengka dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi Kota Megapolitan di Timur Jabar.

Pembangunan kawasan industri, perdagangan dan pemukiman yang masif tentu saja membawa dampak luas bagi lingkungan dan alam. Perencanaan dan pengelolaan lingkungn yang baik mutlak dibutuhkan, agar terjadi keseimbangan alam yang berkesinambungan.

Tugas dan tanggung jawab yang diemban pemerintah daerah kabupaten Majalengka tidaklah mudah, butuh dukungan dari semua pihak terutama warga masyarakat Majalengka. Perencanaan Rata Ruang, pengendalian dampak lingkungan, dampak sosial dll harus dipikirkan dengan matang. Agar kelak tidak terjadi kesemerawutan kota, kerusakan alam, bencana alam, kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, naiknya angka kriminalitas dll.

Ayo warga Majalengka, kita bersiap-siap dan berbenah diri menyambut penampilan baru Majalengka, agar kelak menjadi daerah yang maju, berekonomi kuat dan tetap mampu menjaga kelestarian alam. Tapi yang lebih utama mampu mempertahankan adat dan budaya serta keramah-tamahan asli warga Majalengka. Majalengka nu urang, ku urang, keur urang…!