by

“kampung mati” saksi tragedi amukan alam

-DAERAH-113 views

matamaja.com Majalengka. Bagi warga Desa Sidamukti khususnya Blok tarikolot tentunya tidak akan pernah melupakan tragedi bencana longsor besar yang menimpa permukiman warga pada tahun 2006 silam. Kala itu terjadi pergeseran tanah yang menyebabkan longsor mengerikan yang nyaris saja merenggut korban jiwa warga yang bermukim di blok tersebut. “Alhamdulillah berkat kesigapan dan koordinasi yang baik aparat pemerintahan, korban jiwa bisa dihindari. “ujar Karwan, kepala Desa Sidakmukti saat ini yang saat itu menyaksikan kejadiannya. “Sejak saat itu, tercatat sebanyak 253 Kepala Keluarga (KK) di blok tersebut direlokasi ke Blok Buahlega oleh pemerintah setempat pada 2009 sampai 2010,” tambahnya menjelaskan. Total ada 180 rumah yang rusak karena pergerakan tanah tersebut dan tak sedikit pula rumah yang tertimbun reruntuhan.

Uniknya rata-rata longsor terjadi pada pukul 18.00 WIB sore, namun karena kesiagaan warga dan aparat desa korban jiwa selalu bisa dihindari. “Sejak longsor besar terjadi, pemerintah Desa Sidamukti dan pemerintah Kabupaten Majalengka melakukan program relokasi pemukiman warga ke lokasi yang lebih aman ,” ucapnya.

Program relokasi itu ternyata tidak diikuti oleh semua warga, masih ada sekitar 20 KK yang memaksa memilih tinggal Blok Tarikolot, karena alasan dekat dengan lahan pertaniannya. 10 tahun kemudian, atau tepatnya tahun 2016, bencana pergerakan tanah skala besar kembali terjadi. “Alhamdulillah, semua warga dalam keadaan selamat” ucap syukurnya. Namun lambat laun dengan pendekatan dan penerangan dari pemerintah serta kesadaran dari warga itu sendiri, akhirnya mereka menerima untuk direlokasi.

“Waktu bencana besar tahun 2016 masih ada 20 KK memilih tinggal tapi saat itu bencana besar akhirnya warga berhasil dibujuk untuk relokasi. Sekarang tersisa delapan KK tinggal itu juga kadang tidak menginap,” jelas dia.

“Data dari hasil penelitian badan geologi Kementerian ESDM, setiap 20 tahun sekali ada pergerakan tanah atau longsor. Bahkan tiap detik tanah tersebut juga bergeser kecil, cirinya kalau musim hujan tidak ada air mengalir atau keluar ke tanah berarti khawatir akan terjadi longsor besar kalau keluar air mengalir berarti longsor kecil” terang Karwan. “oleh karena itu, tempat tersebut akhirnya ditetapkan ke dalam zona merah rawan bencana” pungkasnya.

Dengan kondisi perkampungan kosong tanpa adanya warga yang tinggal dan melakukan aktivitas, ditambah dengan rimbunnya pepohonan yang terkesan angker, ada menamakan blok tersebut dengan sebutan “Kampung Mati“, walaupun kenyataannya tak seseram yang dibayangkan. Lebih tepatnya blok dalam zona merah bencana dengan sangat minim aktivitas warga didalamnya. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi kita semua, Amin (wind) reff tribun