by

Fakta-fakta Rusia Caplok 4 Wilayah Ukraina Lewat Referendum

Matamaja.com//Empat wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia menggelar referendum selama lima hari. Hasilnya, mereka menyatakan sepakat untuk bergabung bersama Rusia.

Empat wilayah itu yakni Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia dan Kherson. Keempat wilayah tersebut sekitar 15 persen wilayah Ukraina.
Pemungutan suara yang dilakukan Rusia ini terjadi setelah Ukraina merebut momentum di medan perang dengan mengalahkan pasukan Rusia di wilayah timur laut Kota Kharkiv.
Kepala Majelis Tinggi Parlemen Rusia, Valentina Matviyenko mengatakan, jika hasil pemungutan suara ini berjalan lancar, pihaknya dapat mempertimbangkan penggabungan empat wilayah tersebut pada 4 Oktober, tiga hari sebelum Putin merayakan ulang tahun ke-70.
Media lokal Rusia, RIA mengatakan perhitungan awal dari tempat pemungutan suara empat wilayah tersebut sebagian besar mendukung bergabung dengan Rusia.
Misalnya di wilayah Kherson 96,97 persen penduduk menyatakan ingin bergabung sedangkan di Zaporizhzhia mencapai 98,19 persen dan Donetsk dan Luhansk di bawah 98 persen.

Zelensky Tolak Negosiasi
Separatis pro-Rusia menyelesaikan referendum pencaplokan empat wilayah pendudukan Ukraina pada Selasa (27/9). Kiev lantas tidak menilik potensi negosiasi damai lagi dengan Moskow.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan sikapnya saat menyampaikan pidato secara virtual pada pertemuan Dewan Keamanan PBB. Dia meyakini adanya pemaksaan dalam referendum.
Zelensky mengatakan, masyarakat dipaksa mengikuti pemungutan suara dengan todongan senapan. Menurutnya, Rusia telah menyiapkan hasil dari referendum tersebut terlebih dahulu.
“Pengakuan Rusia terhadap referendum semu sebagai ‘normal’, implementasi dari apa yang disebut sebagai skenario Krimea, dan upaya lain untuk mencaplok wilayah Ukraina berarti tidak ada yang perlu dibicarakan dengan presiden Rusia saat ini,” tegas Zelensky, dikutip dari AFP, Rabu (28/9).
“Di depan mata seluruh dunia, Rusia melakukan sandiwara secara gamblang yang disebut ‘referendum’ di wilayah pendudukan Ukraina,” lanjut dia.

Dalam pertemuan itu, PBB menegaskan komitmennya terhadap integritas teritorial Ukraina. Amerika Serikat (AS) juga berniat mengajukan resolusi mendesak agar para anggota tidak mengakui perubahan status Ukraina, serta menuntut penarikan pasukan Rusia.

Kendati demikian, Dewan Keamanan PBB tidak mungkin mencapai konsensus dalam merespons referendum di wilayah Ukraina. Sebab, Rusia memiliki hak veto dalam badan tersebut.
“Referendum dilakukan secara eksklusif dengan transparan, dengan menjunjung tinggi semua norma pemilihan,” jelas Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia.

Separatis pro-Rusia mengeklaim kemenangan dalam pemungutan suara pada Selasa (27/9). Referendum untuk bergabung dengan Rusia berlangsung di wilayah timur Donbass—yang terdiri dari Donetsk dan Luhansk—serta wilayah selatan, Kherson dan Zaporizhzhia.

Putin Ancam Pakai Nuklir Jika Wilayah Referendum di Ukraina Diusik
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan, mereka akan menggunakan senjata nuklir jika ada yang berani mengusik wilayah referendum di Ukraina.
Rusia saat ini sedang mengadakan pemungutan suara selama lima hari di empat wilayah Ukraina yaitu Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia dan Kherson. Dari pemungutan suara tersebut, sejauh ini mayoritas mendukung untuk bergabung dengan Rusia.

Putin menegaskan, tidak akan segan untuk menggunakan senjata nuklir untuk merebut kembali keempat wilayah tersebut.

“Menyelamatkan orang-orang di semua wilayah referendum ini diadakan adalah hal yang paling penting dalam pikiran kami dan menjadi fokus perhatian seluruh masyarakat dan negara kami,” kata Putin dikutip dari Reuters, Rabu (28/9).
Peringatan penggunaan nuklir juga ditegaskan oleh Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev.
Peringatan Medvedev ini berbeda dari peringatan yang sebelumnya karena untuk pertama kalinya ia meramalkan bahwa aliansi militer NATO tidak akan mengambil risiko perang nuklir bahkan jika Rusia menyerang Ukraina dengan senjata nuklir sekalipun.
“Saya percaya bahwa NATO tidak akan secara langsung ikut campur dalam konflik bahkan dalam skenario ini,” kata Medvedev.

“Para demagog di seberang lautan dan di Eropa tidak akan mati dalam kiamat nuklir,” lanjut dia.

Barat Kecam Referendum yang Digelar Rusia di 4 Wilayah Ukraina
Hasil referendum yang diadakan oleh Rusia di empat wilayah Ukraina menunjukkan mayoritas masyarakat setuju bergabung dengan Negeri Beruang Merah. Hasil tersebut dikritik Barat.
Pihak Barat meyakini adan unsur kekerasan dalam pemungutan suara. Amerika Serikat bahkan berupaya untuk mencanangkan resolusi PBB yang mengutuk referendum palsu yang digelar Rusia tersebut.
Pemungutan suara yang dilakukan hanya dalam kurun waktu lima hari di wilayah Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson. Sebanyak 87 persen hingga 99,2 persen suara sepakat untuk bergabung ke Rusia.
“Hasilnya jelas. Selamat datang di rumah, ke Rusia!,” tulis Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia Dmitry Medvedev di Telegram, dikutip oleh Reuters, Selasa (27/9).

Pemungutan suara yang dilakukan di 15 persen total wilayah Ukraina tersebut dinilai sarat akan pemaksaan. Reuters melaporkan bahwa pemungutan dilakukan oleh pejabat dari rumah ke rumah, bukan datang ke tempat pemungutan suara seperti lazimnya referendum atau pemilu.

(@aher/kumparan.com)