by

Babak Baru Dalam Kasus Kematian Brigadir J

-HUKUM-61 views

Matamaja.com//Jakarta — Kasus penembakan dan pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J memasuki babak baru.

Saat ini, telah terdapat empat tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan Yosua, salah satunya Inspektur Jenderal Pol. Ferdy Sambo.

Sambo diduga menjadi otak dari pembunuhan berencana terhadap anak buahnya tersebut. Bahkan, mantan kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) itu, terancam hukuman maksimal mati.

Sementara itu, Polri menjelaskan alasan pembunuhan berencana itu karena Sambo marah terhadap Brigadir J.

Ia emosi usai mendapatkan laporan dari istrinya PC, lantaran mengalami tindakan yang melukai harkat dan martabat keluarga yang terjadi di Magelang.

“Ini pengakuan FS dalam berita acara pemeriksaan (BAP),” kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (11/8).

Pernyataan tersebut merupakan keterangan resmi terbaru yang diberikan Polri dalam kasus Brigadir J. Sejak kasus itu bermula sebulan lalu, Korps Bhayangkara sudah beberapa kali mengubah keterangannya dari kronologi, kamera pengawas (CCTV), sampai motif pembunuhan.

Adapun sejumlah keterangan yang sempat diberikan Polri sejak awal kasus.

Peristiwa ini awalnya disampaikan oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan, Komisaris Besar Pol Budhi Herdi Susianto. Budhi mengungkapkan Yosua tewas oleh Bharada E usai aksi saling tembak di rumah dinas Kadiv Propam pada Jumat (8/7/2022) pukul 17.00 WIB.

Pemicunya yaitu Brigadir J melecehkan istri Sambo, Putri Candrawathi.

“Kami sudah menyelesaikan Berita Acara Perkara (BAP) tiga orang yang ada di TKP,” ucap Budhi.

Ketika peristiwa itu terjadi, Bharada E yang dan dua saksi lainnya juga berada di lantai dua rumah itu.

Sementara itu, Kadiv Propam Irjen Ferdy sedang berada di luar rumah untuk keperluan tes PCR.

Kejadian diawali Brigadir J yang masuk ke dalam kamar pribadi Kadiv Propam dan menodongkan senjata ke istri Ferdy. Putri lalu berteriak dan direspon oleh Bharada E dengan turun dengan maksud bertanya.

Dari atas tangga dengan jarak 10 meter, Bharada E sempat bertanya mengenai kejadian itu tetapi direspon tembakan oleh Brigadir J.

“Sebanyak tujuh kali tembakan,” ucap Kabag Penum Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan. Brigadir J tewas dengan tujuh luka tembak termasuk luka sayatan dari serpihan proyektil peluru yang mengenai tubuhnya.

Adapun E tak mendapatkan luka lantaran dari keterangan saksi, ia dalam posisi terlindung oleh tangga. Di kesempatan itu, kata Budhi, kamera pengawas atau CCTV di rumah dinas Sambo rusak. Akibatnya, aparat keamanan tidak bisa mendapatkan rekaman kejadian tewasnya Yosua.

Tanggal 13 Juli 2022, Budhi pun meluruskan pernyataan tetangga Sambo tentang adanya polisi yang mengganti CCTV usai kejadian.

Menurutnya, tim penyidik hanya mengganti decoder kamera di pos satpam untuk kepentingan pemeriksaan. 18 Juli 2022 Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menonaktifkan Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam.

Hal ini terpaksa dilakukan untuk menjaga objektifitas penyidikan kasus penembakan yang menewaskan Brigadir J.

Adapun mantan Kabareskrim itu juga berjanji investigasi bakal dilakukan secara bertanggung jawab dan berbasiskan sains.

Tentu hal ini menjawab tudingan banyak pihak termasuk Menko Polhukam Mahfud MD bahwa ada kejanggalan dalam kematian Brigadir J.

“Akan digabungkan menjadi satu rangkaian peristiwa,” ucap Kapolri dalam siaran persnya, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/7/2022).

Tanggal 19 Juli 2022, polisi menaikkan kasus kematian Brigadir J ke penyidikan. Aparat menemukan dugaan pidana Pasal 289 dan Pasal 335 pada aksi Yosua sebelum tewas.

“Perbuatan cabul dan pengancaman,” kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Dedi Prasetyo. Kasus juga tak lagi ditangani Polres Jakarta Selatan, namun Polda Metro Jaya.

Bareskrim dalam hal ini baru memberikan asistensi. 21 Juli 2022 Polisi mengumumkan bahwa kamera pengawas (CCTV) yang pernah terpasang di kediaman Sambo ditemukan.

Padahal sebelumnya mereka menyatakan CCTV itu rusak.

“Kami sudah menemukan CCTV yang bisa mengungkap secara jelas tentang konstruksi kasus ini,” ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Dedi Prasetyo dalam siaran persnya, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (20/7/2022) malam.

Tanggal 22 Juli 2022 Tim Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri resmi menaikkan kasus kematian Brigadir J ke penyidikan. Mereka menemukan dugaan adanya pembunuhan berencana dalam kasus ini.

Tanggal 26 Juli 2022, tim Mabes Polri berangkat ke Jambi untuk mempersiapkan autopsi ulang jasad Brigadir J. Hal tersebut seiring adanya permintaan keluarga Yosua agar autopsi ulang dilakukan karena adanya kejanggalan pada luka polisi tersebut.

Di awal kasus, polisi mengatakan luka yang ada di tubuh Brigadir J terjadi karena proyektil peluru.

Tanggal 3 Agustus 2022, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Yosua. Status diberikan setelah Bareskrim memeriksa 42 saksi.

Polres Metro Jaksel menegaskan tembak menembak antara Bharada E dan Brigadir J di rumah Ferdy Sambo yaitu pembelaan diri dari pelecehan. Tetapi, hal tersebut dibantah oleh Bareskrim.

“(Pelanggaran) Pasal 338 juncto 55 dan 56 KUHP, jadi bukan beladiri,” ungkap Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Andi Rian Djajadi dalam konferensi pers, Rabu (3/8/2022).

Tanggal 4 Agustus 2022, Irjen Sambo menjalani pemeriksaan oleh Bareskrim. Sebelum diperiksa, ia pun meminta maaf kepada institusi Polri.

Sambo juga mengucapkan belasungkawa atas kematian Brigadir J. Tetapi, dirinya juga memberikan pembelaan atas apa yang terjadi sehingga sang ajudan tewas.

“Itu terlepas dari apa yang dilakukan saudara Yosua kepada istri dan keluarga saya,” tuturnya.

Pada hari yang sama, Kapolri mencopot Sambo dari jabatannya sebagai Kadiv Propam. Pria lulusan Akpol 1994 itu juga diperiksa secara etik terkait ketidakprofesionalan dalam menangani kematian Yosua.

Adapun nama jenderal lain yang dicopot Listyo Brigjen Pol. Hendra Kurniawan dicopot dari Kepala Biro Pengamanan Internal (Karo Paminal) Polri dan Brigjen Pol Benny Ali dicopot dari jabatan sebagai Karo Provost Div Propam Polri.

“Bila ditemukan adanya pidana, kami akan proses,” tandansya.

Tidak Ada Pelecehan Saat Brigadir J Ditembak

Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto mengindikasikan tidak ada peristiwa pelecehan seksual terhadap Putri Candrawathi yang merupakan istri Irjen Pol. Ferdy Sambo saat Brigadir J ditembak oleh Bharada E di Kompleks Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Agus mengungakapkan, indikasi tersebut terungkap dari hasil gelar perkara yang dipimpin langsung olehnya pada Jumat (12/8/20022) siang di Bareskrim Polri.

“Saat pimpin gelar tadi, berdasarkan paparan Dirtipidum, semua saksi kejadian menyatakan Brigadir Josua almarhum tidak berada di dalam rumah,” tutur Agus di Jakarta, Jumat.

Jenderal bintang tiga tersebut melanjutkan, Brigadir J masuk ke dalam tempat kejadian perkara (TKP) rumah dinas di Kompleks Duren Tiga Nomor 46 tersebut setelah dipanggil oleh Ferdy Sambo.

“Almarhum J masuk saat dipanggil ke dalam oleh FS,” ucap Agus.

Untuk diketahui, Putri Candrawathi membuat laporan polisi terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J.

Seperti yang disampaikan oleh juru bicara Polri pada Senin (11/7/2022) bahwa tembak-menembak antaranggota terjadi karena pelecehan yang dilakukan Brigadir J terhadap istri pimpinannya.

Saat itu dilaporkan, bahwa Putri teriak dari kamar sehingga membuat ajudan lainnya, termasuk Bharada E dan saksi lainnya yang berada di lantai dua terkejut dan langsung turun menanyakan ada peristiwa apa. Di saat itu terjadilah tembak-menembak.

Seiring perkembangan waktu dan hasil penyidikan yang dilakukan Tim Khusus Polri, terbukti hal itu hanya skenario yang dibuat oleh Ferdy Sambo.

Sementara itu, Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri telah menggugurkan laporan dugaan pelecehan yang dilaporkan oleh Putri Candrawathi.

Termasuk laporan dugaan percobaan pembunuhan terhadap Bharada E yang dilaporkan anggota Polres Metro Jakarta Selatan pada Jumat (8/7/2022).

Berkenaan laporan palsu yang dibuat oleh Putri Candrawathi apakah dapat dipidana? Agus pun berharap semua pihak untuk menunggu perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh Tim khusus Polri.

“Nanti kami serahkan kepada Timsus keputusannya seperti apa,” tutur Agus.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Pol. Andi Rian Djajadi menyebutkan, kedua laporan tersebut masuk dalam kategori sebagai upaya untuk menghalang-halangi penyidik dugaan pembunuhan berencana Brigadir J. Dengan sendirinya kedua laporan tersebut dinyatakan gugur.

“Kami anggap dua laporan polisi ini menjadi satu bagian masuk dalam kategori obstraction of juctice. Menjadi bagian dari upaya menghalangi-halangi pengungkapan dari pada kasus 340 (pembunuhan berencana Brigadir J),” tandasnya.

(@aher/PMJNews)