oleh

Andre Rosiade: SIG Perlu Tingkatkan Koordinasi dengan Kementerian Terkait

matamaja – Jakarta. Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mendorong PT Semen Indonesia Group (SIG) untuk berkoordinasi dengan Kementerian BUMN, Kementerian Investasi serta Kementerian Perindustrian untuk memastikan komitmen terhadap moratorium pabrik semen di Indonesia. Sebab, menurut Andre saat ini semen telah mengalami over supply, sehingga hingga tahun 2030 tidak perlu membangun pabrik semen baru.

“Jangan moratorium semen ini sebatas wacana, karena di Aceh sekarang ada pembangunan pabrik semen baru, yang kedua di Kutai Timur. Padahal di sini bapak masukkan potensi permintaan semen untuk ibu kota negara, IKN itu 21 juta ton, orang pabriknya dibangun di situ kok pak, di Kutai Timur situ, takutnya Semen Indo Group hanya jadi penonton,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI dengan Direktur Utama PT SIG, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (24/5/2022).

Lebih lanjut, menurut politisi Partai Gerindra ini, SIG juga perlu melakukan koordinasi dengan Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait ketersediaan batu bara sebagai bahan baku semen. Sebab, SIG menyebutkan pihaknya mengalami kekurangan sebanyak 1 juta ton batu bara sebagai bahan baku semen.

“Jangan sampai saya dengar pabrik bapak stoknya hanya untuk dua minggu, bahkan kadang-kadang setop (produksi) gara-gara stok batu baranya habis. Nah jangan sampai. Ini perlu jadi pemikiran kita, jangan sampai di satu sisi kita meminta SIG menguasai market, tapi pabrik mereka sering setop (produksi) karena stok batu baranya terbatas. Apalagi (perusahaan) semen swasta saat ini diberikan keluasan untuk membeli batu bara dengan harga pasar,” tegas Andre.

Selain itu, terkait solar panel yang mulai diterapkan SIG dan dinilai telah efektif mengurangi tarif listrik sebesar 15 persen, legislator daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat I tersebut menyarankan agar SIG menggunakan metode operating expenses (opex) sehingga biaya listrik dapat lebih ditekan.

“Saya menyarankan karena pemain solar panel ini sudah banyak di dunia, maka jangan pake capex lagi pak, tapi pake opex, jangan berinvestasi, ajak dan undang para pemain solar panel ini untuk berinvestasi di pabrik bapak, yang penting bisa murah. Saya dengar tahun ini ada tiga pabrik solar panel yang dibangun di Indonesia, ini bisa jadi catatan bagi bapak jangan investasi capex pak, pake opex aja jadi manage service aja, jadi mereka untungnya dari pembayaran listrik bapak bukan dari investasi,” tutupnya. (DPR)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.